SMESCO Bangga dengan Perajin Songket Silungkang

SAWAHLUNTO – Event internasional untuk mempromosikan produk unggulan daerah kembali digelar. Kali ini, pergelaran yang bertajuk Sawahlunto International Songket Carnival III (SISCa) 2017 tersebut dihelat di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Acara tersebut serentak dibuka secara resmi olehWakil Gubenur Sumatera Barat Nasrul Abit, Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf, Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha kecil Menengah (LLP-KUKM) Emilia Suhaimi, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda.

Direktur Utama LLP-KUKM Emilia Suhaimi yang menghadiri acara puncak SISCa 2017 pada Minggu (27/8), menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi event internasional tersebut.

Dalam sambutannya, Emilia mengatakan bahwa event SISCa patut mendapat apresiasi yang tinggi, karena menonjolkan kekayaan budaya dan kearifan lokal. Kegiatan tersebut juga secara konsisten telah mengangkat warisan budaya Nasional yang diekspresikan dalam suatu karya seni tinggi, buah tangan para perajin tenun Songket Silungkang.

’’Tenun Songket Silungkang juga mengandung nilai kehidupan masyarakat Sawahlunto yang menggambarkan kesakralan, ketekunan, ketelitian dan kesabaran,’’ ujarnya.

Menurut Emilia, cerita di balik tenun Songket Silungkang ini atau story behind the product perlu terus diangkat dan dipromosikan, sehingga para konsumen dari dalam maupun mancanegara akan tertarik untuk membeli. Sebagai upaya untuk memperkuat positioning produk UKM, kata Emilia, penenun Songket Silungkang dapat dilakukan melalui berbagai strategi. Yaitu, adanya pameran produk, konferensi, dan karnaval.

Menurut Emilia, SMESCO Indonesia secara permanen memiliki ruang display produk yang terbagi menjadi tiga zona. Yaitu, Galeri Indonesia WOW, Rumah Desain, dan Paviliun Provinsi. ’’Untuk menjadi mitra kami, para pelaku UKM dapat mengunjungi website www.smescoindonesia.com untuk dapat men-download form isian tanpa dipungut biaya,’’ kata Emilia.

Produk tenun Songket Silungkang tersebut, kata dia, akan dimasukkan ke dalam kategori produk fashion dan aksesoris. Motif Silungkang asli Sumatera Barat ini juga dapat juga dikombinasikan dengan produk lain seperti tas dan handycraft, sehingga variasi produk dari seni menenun ini juga dapat mewarnai produk di luar fashion.

Produk unik dari tenun Songket Silungkang tersebut juga perlu mendapat perlindungan. Untuk melindungi produk KUMKM dari penjiplakan, Kementerian Koperasi dan UKM sejak dua tahun yang lalu telah menyediakan biaya pengurusan hak cipta dan hak merek gratis bagi para pelaku KUMKM yang akan dikeluarkan sertifikasinya oleh Kementerian Hukum dan HAM. 

’’Kami juga telah melakukan berbagai pelatihan teknis bagi para start-up business yang dilaksanakan di berbagai daerah,’’ ujarnya dengan bangga.

Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mendukung Songket Silungkang menjadi produk unggulan nasional.’’Songket harus sama-sama kita kembangkan dengan pemahaman selera internasional. Seperti bagian dalamnya yang masih ditemukan kurang bagus. Jadi, hal-hal detail itu harus diperhatikan,’’katanya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda menyebutkan, Kemendag berkeinginan agar semua produk yang dihasilkan oleh Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Songket dari Sawahlunto, sebutnya, merupakan salah satu produk yang harus dikembangkan. Pihaknya kini memberikan pendampingan kepada dua Usaha Kecil Menengah (UKM) di Sawahlunto agar mampu go internasional. ’’Sudah kami daftarkan juga di Kumham,’’ ujarnya. 

Wakil Gubenur Sumatera Barat Nasrul Abit menyebutkan, beberapa kabupaten/kota di provinsi itu sedang mengembangkan songket dan tenunan. Namun, Songket Silungkang sudah terkenal dengan harga relatif murah. ’’Songket ini adalah satu produksi Sumbar yang kami kembangkan,’’ katanya.

Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf menambahkan,dari 37 desa/kelurahan, sebanyak 18 di antaranya telah terdapat perajin songket. Dalam sehari, mereka mampu memproduksi 162 model songket. ’’Kami punya obsesi bahwa Songket Silungkang diharapkan menjadi andalan industri tekstil kreatif yang mengangkat nama Sawahlunto, Sumatera Barat,’’ tandasnya. (*)

Jakarta, 27 Agustus 2017

Humas LLP-KUKM